Entri Populer

Kamis, 27 Januari 2011

Bocah-Bocah Neraka

Anak-anak kecil itu sudah besar. Sudah dewasa. Tahu benar bagaimana membunuh kemunafikan. Dengan caranya sendiri-sendiri.
Memeluk lutut. Kedinginan. Sesekali membenturkan kepala ke dinding. Tapi tidak menyesali. Bagi mereka, tidak ada untung rugi. 
Satu sel terdiri dari seratus dua puluh anak. Berumur dari dua belas tahun sampai kurang dari dua puluh tahun. Dan coba tanyalah alasan mereka tinggal disana..jawabannya pasti akan sederhana. Membunuh nyawa, karena lapar atau tidak sengaja. 
Ceritanya, itu rutan hanya untuk orang dewasa mustinya, tapi entahlah..mengapa bocah juga ada disana..bersel di depan ruang penjara tahanan narkoba. Persis di depan pemabuk itu, ada harapan masa depan bocah-bocah.
Tidak apa-apa jika mabuk dibutuhkan orang dewasa, tapi tidak untuk mereka sang bocah. Karena, seharusnya..selayaknya dunia mereka sudah memabukkan. Penuh dengan kesenangan. Penuh dengan observasi indahnya dunia.
Tapi tahi dunia terbukti tercecer dimana-mana..dan tanpa sengaja, mereka memakannya. Memakan hingga kenyang. Seperti coklat yang lezat, dinikmati tanpa membayar.
Hilang sudah mimpi-mimpi tuan..kepingin jadi dokter juga pasti mereka..walaupun bapak di ujung ruangan menganjurkan mereka untuk menjadi pengacara saja. Biar sekalian mengaburkan. Mengaburkan harapan. Membunuh pertahanan yang tak punya bekingan.
Aku pada mereka. Rinduku tak terhingga. Pada yang pahitnya tak sampai ke kuping-kuping penguasa. Pada yang menikmati hari-hari tanpa menuntut sia-sia. Bagi bocah-bocah. Yang letaknya di neraka dunia.




Ps: in depth reporting di medaeng selama 2 bulan, membuat saya kehilangan nafsu makan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar