Entri Populer

Kamis, 17 Maret 2011

Profile Roes Arief Budiman Sosok “Ilmuwan Gila Taveling” Indonesia yang Sukses di Dunia Science Internasional


Sosok profil Batavia Air inflight Magazine kali ini bisa dibilang cukup eksentrik. Betapa tidak? Berkenalan dengan sosoknya berarti sekaligus mengenal dunia science melalui pendekatan yang fun dan interaktif. Beruntung tim redaksi dapat berbincang dengan Roes Arief Budiman di sela kepulangannya yang singkat ke tanah air, tepatnya di Kota Kembang, Bandung.
Roes Arief Budiman, atau yang kerap dipanggil dengan Arief, adalah salah satu sosok warga negara Indonesia yang sukses berkiprah di dunia pendidikan science internasional. Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya yang gemar melakukan outdoor activity ini sekarang aktif menjadi staff pengajar (Associate Professor) di jurusan Mechanical and Manufacturing Engineering, University of Calgary, Canada. Berikut perbincangan santai antara Arief dan tim redaksi Batavia Air Inflight Magazine..

Bisa diceritakan tentang prinsip hidup anda?

Saya ukur kesuksesan hidup saya dengan apa yang saya lakukan, bukan yang saya punyai. Tidak ada guna punya uang banyak tapi dipakai untuk beli dan pamer barang. Lebih baik dipakai keliling dunia dan membantu rakyat miskin. Saya menyukai kesederhanaan (simplicity) dan keelokan (beauty). Kesederhanaan dalam arti apa adanya dan mencari hakikat inti hidup ini. Keelokan lalu memberi sentuhan style dalam hidup yang singkat dan sederhana.

Bagaimana awalnya anda tertarik terjun ke dunia science?

Sejak duduk di bangku  SMA Negeri 2 Surabaya, saya tergila-gila dengan pelajaran Matematika dan Fisika. Teman-teman  di SMP dan SMA mengingat saya sebagai siswa berprestasi. Dalam mempelajari eksak, saya tidak hanya menghapal, tapi berusaha memecahkan persoalan dengan teknik analisa dan menguraikannya dengan bergulat dengan ide-ide. Ketika yakin saya benar-benar jatuh cinta dengan science, saya lantas melanjutkan kuliah di Teknik Fisika ITS Surabaya. Lalu menuntut ilmu di luar negeri untuk memantapkan materi science sebagai bekal untuk menjadi ilmuwan.

Spesifikasi science yang anda tekuni hingga kini?

Saya menekuni mekanika statistik (statistical mechanics). Ini teori fisika yang menelorkan berbagai macam rumus-rumus yang dipakai oleh para insinyur untuk berbagai macam aplikasi mulai gas turbine sampai microelectronics. Mekanika statistik inilah yang berperan menjembatani dinamika atom dan molekul dengan sifat-sifat benda yang kita gunakan dan alami sehari-hari, seperti kenapa logam menghantarkan listrik, plastik bisa molor kalau ditarik, dan air menguap kalau dipanaskan.

Bisa diceritakan suka duka mengajar dan menggeluti dunia science?

Mengajar membuat saya berjiwa muda. Capeknya kalau harus menilai ujian akhir mahasiswa yang berjumlah sampai 200 orang; bisa sampai 2-3 minggu. Kerja mikir juga bikin capek, apalagi kalau nggak ada ide baru padahal sudah berpikir keras, sampai-sampai ingin membenturkan kepala ke tembok rasanya..haha..!

Hm..bisa dibanyangkan..ngomong-ngomong, hal apa sih yang bisa membuat anda tertawa dan mengurangi stress kerja?  

Wah..saya suka sekali Guyon Suroboyoan gaya Kartolo Cs. Cletukan-cletukannya itu lho..bisa membuat semua orang terpingkal-pingkal. Kelucuan hidup juga kerap terjadi kala teman-teman dan saya sendiri berbagi kisah hidup kita apa adanya.

Kenapa memilih mengabdi di luar negeri?

Penghasilan dosen/profesor jauh lebih tinggi dari di tanah air. Jika perbedaan kurs rupiah-dollar dan perbedaan biaya hidup diikutkan, gaji dosen di luar negeri mencapai 5 (lima) kali lipat lebih tinggi. Ini membantu saya mencari uang lebih cepat karena harus memberi uang pensiun ke orang tua dan membantu keluarga yang ada di Indonesia. 


Apa motivasi anda dalam berkarir di dunia science?

Saya ingin hidup saya berguna buat masyarakat luas. Meninggalkan legacy (warisan) positif, baik ilmu maupun penemuan, buat generasi berikutnya. Mendidik mereka biar lebih melek science dan jadi lebih baik dari kita.

Anda sekarang mengajar di mana? Bisa diceritakan perbandingan antara iklim belajar science di sana dan di dalam negeri?

Saya mengajar di Department of Mechanical and Manufacturing Engineering, University of Calgary, Canada. Mahasiswa Canada kritis dan berusaha mengerti why bukan how saja. Saat ini kebetulan saya sedang cuti akademis (sabbatical leave) di ITB sampai Juni 2010. Sebelumnya belum pernah mengajar di tanah air. So, please ask me this question again in 6 months.. : )

Oya..Menurut telah anda, sebenarnya apa yang kurang dalam pengajaran dan pelajaran science di dalam negeri yang membuat kita kalah bersaing dibanding negara lain?

Yang saya tahu, kebanyakan metode yang diterapkan masih menitikberatkan penghafalan rumus-rumus dan aplikasi tanpa dijelaskan, kenapa rumus-rumus itu dipakai. Maka otomatis kemampuan inovasi menjadi berkurang, karena duduk masalah teknik yang sebenarnya tidak bisa ditelusuri jika tidak mengenal dan menguasai ilmu dasar dengan baik.

Jika demikian, metode pengajaran science apa yang seharusnya diterapkan di Indonesia?

Back to nature. Lihat sekeliling kita. Ajak murid dan mahasiswa untuk bertanya sambil melihat alam sekeliling. Biar menarik, ajak mereka melihat aplikasi science dulu dan setelah itu arahkan mereka mengetahui dan mengerti hokum-hukum fisika untuk menjelaskan apa yang terjadi. Bagaimana radio dan cellphone bekerja? Kenapa listrik sering mati di tanah air? Kenapa kita jangan membuang sampah sembarangan? 



Bisa tolong sebutkan beberapa dari penemuan atau hasil karya anda? Lalu tokoh siapakah yang menginspirasi anda dalam berkarier?

Saya masih jauh dari penemuan yang berguna buat orang banyak. Ke arah sana tapi butuh waktu. Ada beberapa karya teori saya yang cukup dikutip ilmuwan-imuwan lain tapi lingkupnya belum ke masyarakat luas. Saya terinspirasi Richard Feynman dan Muhammad Yunus. Keduanya pemberani dan berkarakter orisinal. Feynman fisikawan yang brilian dan Muhammad Yunus, ekonom yang merakyat dan menjadi agent of change buat bangsanya.

Bagaimana dukungan keluarga terhadap perjalanan karir anda?

Justru merekalah yang hebat! Mereka mendukung penuh. Istri saya bekerja di Starbucks saat saya belajar S3 di University of Toronto. Orang tua saya pun tidak pernah memaksa saya untuk melakukan yang tidak saya sukai. 

Ilmuwan seringkali dianggap sebagai elemen masyarakat yang eksekutif dan kurang bisa bergaul dengan masyarakat umum, apa benar begitu?

Nggak juga. Tergantung orangnya. Banyak ilmuwan yang teruji integritasnya, justru rendah hati karena standard of excellence mereka sangat tinggi. Ini yang sering mengesankan mereka diam, padahal banyak ngomongnya kalau cocok. Saya sendiri tidak canggung omong-omong dengan tukang becak sampai duta besar.

Next Question..Apa hobi anda?

Outdoor sports. Naik gunung. Lari jarak jauh. Touring biking (sepeda jarak jauh). Saya suka sekali naik gunung di Rocky Mountains, Canada. Kemarin saya bersepeda Bandung-Jakarta lewat Puncak. Minggu lalu saya lari half-marathon dari Serpong ke makam Tanah Kusir, Jakarta. Saya juga suka menulis puisi. 





Destinasi yang terakhir kali anda kunjungi?

Di tanah air! Gowes sepeda dari Bandung ke Jakarta..Lalu backpacking Kebumen – Gombong menyusuri pantai selatan termasuk Karang Bolong yang terkenal dengan sarang burung waletnya!  Fun sudah pasti dan bikin badan seger..

Ada tips buat para traveler?

Kalau jarak yang ditempuh cukup jauh dan melelahkan, sudah pasti yang pertama harus memilih maskapai yang aman dan profesional. Lalu tentu saja persiapan fisik dan pengetahuan medan harus diperhitungkan. Yang penting, lakukan perjalanan dengan santai, namun tetap sigap dalm membaca keadaan lingkungan sekitar.

Back to subject, apa rencana anda ke depan untuk memberi sumbangsih terhadap pendidikan science di Indonesia, khususnya Surabaya?

Ada keinginan untuk pulang kampung, kembali ke tanah air. Kendalanya menunggu kedua anak saya agak dewasa. Kendala kedua saya sudah berwarganegara Canada. Saya berharap Indonesia nantinya memperbolehkan dwi kewarganegaraan. Biar brain drain bisa jadi brain gain buat tanah air.

Curriculum Vitae

Roes Arief Budiman lahir di Surabaya tahun 1970. Arief bersekolah dari SD sampai SMA di Surabaya dan kemudian meneruskan kuliah S1 (BASc) di University of Toronto dengan bidang studi Mechanical Engineering. Studi S2 (MASc) dan S3 (PhD) juga dilakukan di University of Toronto. Setelah lulus S3 tahun 2001, Arief bekerja sebagai staf pengajar (Associate Professor) di jurusan Mechanical and Manufacturing Engineering, University of Calgary. Arief aktif di komunitas masyarakat Indonesia di Calgary, Canada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar